Kamis, 14 Februari 2013

Ujian Sebuah Keadilan


Ujian Sebuah Keadilan

Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi Khalifah pernah diguncang oleh timbulnya pemberontakan yang sangat hebat. Kaum pemberontakan bertindak sangat kejam terhadap rakyat jelata. Maka pemerintah bertekad untuk membasmi sampai tuntas. Para pemberontak yang tidak mau menyerahkan diri, bila tertangkap akan dijatuhi hukuman mati.

Suatu ketika, seorang pemberontak tertangkap. Ia dijatuhi hukaman pancung. Algojo yang melaksanakan hukuman sudah siap dan pelaksanaan hukuman akan dilakukan. Rakyat yang menyaksikan menunggu dengan berdebar-debar.

Sesuai dengan pengaturan, sebelum pelaksanaan dimulai, kepada terhukum diberikan kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhirnya.

“Hai pemberontak yang berhati kejam, kau kuberi kesempatan untuk mengajukan permohonan terakhir. Sampaikan apa keinginannmu sebelum hukuman atas dirimu dilaksanakan!” kata Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

“Terima kasih Amirul Mukminin,” jawab pemberontak itu. “Saya hanya menginginkan semangkuk air putih.”

“Hanya itu permintaanmu?” Tanya Khalifah keheranan.

“Benar, tuanku.”

“Baiklah, akan kupenuhi permintaanmu,” ucap Khalifah, kemudian memerintahkan salah seorang pengawal mengambil semangkuk air untuk diberikan kepada terhukum yang sebentar lagi akan mati.

Setelah mangkuk berisi air itu diterima oleh pemberontak itu, ia berkata : “Apakah Khalifah mau berjanji, apabila air yang ada dalam mangkuk ini belum saya minum, Khalifah tidak akan memerintahkan algojo melaksanakan hukuman atas diri saya?”

“Ya, aku berjanji. Jika air dalam mangkuk itu belum kau minum, hukuman tidak akan dilaksanakan,” sahut Khalifah member jaminan.

Mendengar janji Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tiba-tiba pemberontak itu membuang air dalam mangkuk itu sampai habis.

“Janji adakah suatu yang harus ditepati. Bukanlah demikian, wahai pemimpin orang-orang yang beriman?” katanya.

“Pasti. Janji memang harus ditepati, itulah keadilan,” jawab Khalifah yang masih belum memahami apa yang dimaksud pemberontak itu dengan perbuatannya yang dianggap kurang waras. Ia telah membuang air yang baru saja dimintanya.

“Tadi Khalifah berjanji, jika air dalam mangkuk itu belum saya minum, Tuanku tidak akan melaksanakan hukuman saya. Air itu telah saya tumpahkan, dan sekarang telah kering ditanah, sehingga saya tidak bias lagi meminum air itu. Berarti Khalifah tidak akan bias melaksanakan hukuman sesuai dengan janji Khalifah tadi,” ucap pemberontak itu dengan liciknya.

Mendengar itu, Khalifah mengerutkan keningnya untuk beberapa lama. Kemudian ia tersenyum dan membebaskan tersebut dari hukuman matinya.

Pada kesempatan lain, kembali seorang pemberontak tertangkap. Dengan muka menahan marah ia memerintahkan untuk segera menghukum pemberontak itu dengan hukuman pancung.

Menjelang hukuman mati dilaksanakan, tiba-tiba pemberontak itu menangis tersedu-sedu. Dengan wajah sinis Khalifah mencemoohnya.

“Mengapa engkau menangis? Seorang pemberontak yang konon gagah berani ternyata menangis dalam menghadapi kematian. Apakah engkau sekerang sudah menjadi tikus yang pengecut?”

“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, saya menangis bukan karena takut mati. Ajal sudah menjadi ketentuan. Mati pasti akan ditemui oleh siapapun yang pernah hidup.” Sahut pemberontak itu.

“Lalu, kenapa engkau menangis?”

“Saya menangis karena saya akan mati disaat Khalifah sedang marah. Saya sangat menyesal sekali.”

Mendengar jawaban itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz tertunduk. Ia teringat, dalam islam melarang penganutnya melakukan sesuatu dengan dasar nafsu amarah. Rasulullah pun melarang untuk menjatuhkan suatu keputusan hukum ketika sedang marah. Maka Khalifah segera memberi perintah untuk membebaskan pemberontak tersebut dari hukuman pancung.

Akhirnya dengan kegigihan yang tak mengenal lelah, Khalifah dapat menumpas habis semua pemberontak itu. Dalam penyergapan yang jitu salah seorang kepala pemberontak dapat diringkusnya.

Dengan rantai kepada pemberontak itu dihadapkan kepada Khalifah.

“Wahai Amirul Mukminin, Tuan telah diberi kemenangan sehingga sekarang saya menjadi tawanan anda. Sebelum Khalifah menjatuhkan hukuman mati terhadap saya, anugerahilah saya yang kalah ini dengan sesuatu yang melebihi kemenangan,” kata kepala pemberontak itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Khalifah.

“Berilah saya ampunan dan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan.”

“Tidak! Engkau dihukum justru karena dirimu bersalah dan menolak untuk menyerah. Aku harus meneggakan keadilan.”

“Ucapan Khalifah memang benar. Tetapi, bukanlah Khalifah pernah menyatakan bahwa ada yang lebih tinggi harganya dari keadilan, yaitu member maaf? Maka saya mohon, maafkanlah saya. Karena Allah mencintai orang yang mengasihi sesamanya, terutama orang yang lemah, kalah dan berdosa.”

Khalifah menjadi terbungkam, ia telah termakan oleh ucapan tersebut, sehingga kepala pemberontak itu dibebaskan dengan harapan dapat bertobat dan menempuh jalan yang benar dibelakang hari.

Hukum Harus Ditegakkan


Hukum Harus Ditegakkan

Tatkala Khalifah Ali bin Abi Thalib berjalan seorang diri, tiba-tiba seorang laki-laki dating mendekatinya dan mengadu kepadanya.

“Ya Amirul Mukminin, orang itu telah merampas hak saya,” kata lelaki itu sambil menunjuk ke arah seseorang. “Dia tak mau memberikan hak itu kepadaku.”

Mendengar pengaduan itu, Khalifah Ali kemudian menghampiri orang yang ditunjuk oleh si pengadu. Khalifah kemudian meminta agar orang itu mau mengembalikan hak lelaki pengadu itu. Setelah itu Khalifah meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal Khalifah Ali, tiba-tiba orang itu menampar laki-laki yang mengadukannya, karena merasa malu kepada Khalifah. Dan ia pun tak mau mengembalikan hak yang dituntut kepada dirinya.

Begitu kerasnya tamparan itu, laki-laki yang menuntut itu menjerit kesakitan. Mendengar jeritan itu Khalifah Ali menghentikan langkahnya, dan kembali mendatangi mereka.

“Dia telah menampar saya, Khalifah,” kata laki-laki penuntut itu sambil memegangi pipinya.

“Bila demikian, balas, tampar dia,” kata Khalifah Ali.

Namun laki-laki itu tak melakukannya. Dia tak memiliki keberanian untuk balas menampar orang yang telah menamparnya itu, meskipun Khalifah Ali telah menyuruhnya.

“Tak usah, aku memaafkannya,” katanya lirih, terdengar tidak tulus. Nadanya ada rasa takut.

Namun, tiba-tiba Khalifah Ali menampar orang yang menampar itu Sembilan kali. Khalifah tak bias menerima begitu saja, hukum dan keadilan harus ditegakkan untuk melindungi yang lemah.

“Kenapa Khalifah menamparku, pada hal orang itu sudah memaafkan saya ?” kata orang itu tak mengerti. Ia tak menduga Khalifah Ali akan melakukannya.

“Meskipun dia sudah memaafkanmu, tetapi tamparanku ini harus tetap kulakukan sebagai tuntutan hukum dan hak seorang kepala Negara dalam menegakkan hukum dan keadilan,” jawab Khalifah Ali

Rabu, 13 Februari 2013

AKIBAT MINUMAN KERAS


AKIBAT MINUMAN KERAS

Diceritakan, Barshiha adalah seorang Ulama yang karena alimnya, selama 200 tahun dalam kehidupannya tak pernah berbuat maksiat, meski hanya sekejap. Dicetiakan pula, berkat ibadah dan kealiman Barshiha sampai-sampai para malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.

“Apa yang kau herankan terhadapnya. Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang kamu ketahui. Dan sesungguhnya Barshiha adalah dalam pengetahuan-Ku” kata Allah atas kekaguman malaikat kepada Barshiha. Diakhir hayatnya, Barshiha yang terkenal karena alimnya itu berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya hanya karena minum kharm (minuman keras).

Iblis yang mendengar ramalan itu merasa menemukan kunci kelemahan Barshiha. Dan memang pekerjaan iblislah untuk menggoda manusia agar masuk neraka bersama-sama mereka.

Maka datanglah iblis ke biara Barshiha dengan menyamar sebagai seseorang yang alim dengan mengenakan pakaian zuhudnya berupa kain tenun.

“Siapa kau ini ?” tanya Barshiha, “dan apa keperluanmu ?”

“Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu dalam penyempurnaan mengabdian dan menyembah Allah,” jawab Iblis.

“Siapa yang hendak mengabdi dan beribadah kepada Allah, hanya Allah yang menolong dan bukan dirimu,” kata Barshiha dengan hati yang mantab.

Merasa mangsanya tak termakan oleh bujuk rayunya, iblis melancarkan cara lain. Selama tiga hari tiga malam, iblis menyembah Allah tanpa makan dan minum.

Melihat tamunya beribadah sekhusyuk itu, hati Barshiha mulai goyah. Dia sangat kagum atas kekhusyukan tamunya yang terus meneruh beribadah selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, makan, dan minum sedikitpun. “Bagaimana dia bisa melakukannya. Sedangkan aku yang seperti ini masih tetap memerlukan makan dan tidur bila beribadah kepada Allah,” suara mengusik di dalam hatinya

Didorong rasa penasaran Barshiha lalu bertanya kepada tamunya, bagaimana dia bisa beribadah sampai sedemikian rupa.

“Aku pernah berbuat dosa, bila teringat dosaku itu ak menjadi tak bisa makan, minum, dan tidur,” kata iblis mulai melancarkan muslihatnya.

“Bagaiman caranya agar aku bisa beribadah seperti dirimu ?” tanya Barshiha yang mulai terpikat oleh taktik iblis itu.

Melihatnya mangsanya mulai masuk dalam perangkapnya, iblis lalu menyarankan agar Barshiha sekali waktu melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, dan kemudian bertobat kepada-Nya. Dengan demikian, Barshiha akan dapat merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.

“Apa yang harus kukerjakan,?” tanya Barshiha lagi. Benteng keimanannya semakin goyah.

“Berzina!” jawab iblis spontan.

“Itu tidak mungkin! Aku tak akan melakukan perbuatan maksiat itu. Sungguh itu suatu dosa besar !” sahut Barshiha

“Jika tak mau melakukan itu, membunuh orang raja. Bagaimana ?” ujar iblis itu.

“Tidak! Aku tak berani melakukannya. Perbuatan itu sangat dikutuk Allah!”

“Bagaimana kalau minum khamr, yang dosanya lebih ringan ?” desak iblis semakin gencar melakukan godaannya.

“Aku memilih minum kharm saja. Tapi, dimana aku akan mendapatkannya?” tanya Barshiha yang telah termakan oleh bujukan iblis itu.

“Pergilah ke desa ini,” ujar iblis menunjukkan nama dan tempat yang dimaksud.
Atas saran iblis itu, pergilah Barshiha menuju desa yang dimaksud. Disana ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjualan khamr. Ia membelinya dan langsung meneguknya.

Karena tak biasa minum minuman keras Barshiha menjadi mabuk, ia kehilangan kontrol. Dengan nafsu ia memaksa perempuan penjual khamr untuk diajaknya berzina. Dan disaat ia memperkosa perempuan itu, suaminya datang memergokinya. Barshiha menjadi takut dan bingung, dan gelap mata dipukulnya suami perempuan penjual kharm itu hingga tewas.

Saat Barhiha kepayahan, iblis menyamar sebagai orang yang alim itu berubah menjadi orang biasa. Ia melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dan Barshiha sebagai terdakwah.

Oleh pengadilan Bashiha dijatuhkan hukuman cambuk 80 kali karena minum kharm, dan 100 kali cambuk karena berbuat zina atau memperkosa. Sedangkan karena membunuh suami perempuan penjual khamr, Barshiha dijatuhkan hukuman gantung sebagai ganti darah.

Saat Barshiha digantung, datanglah iblis menghampirinya.

“Bagaimana keadaanmu, Barshiha?” tanya iblis

“Siapa yang mengikuti ajakan orang jahat beginilah akibatnya,” jawab Barshiha menyesali diri.

“Selama 200 tahun aku telah berupaya untuk menggodamu sampai berhasil hari ini dan hingga kau digantung. Aku dapat menolongmu menurunkan dirimu dari tiang gantungan. Tapi ada syaratnya...” kata iblis itu, yang masih saja berusaha memperdaya korbannya.

“Apa syaratnya?” tanya Barshiha.

“Kau harus bersujud kepadaku.”

“Bagaimana aku bisa bersujud kepadamu, sedangkan leherku terikat tali gantungan?” ujar Barshiha yang sudah kehilangan benteng keimanannya.

“Tak perlu susah payah. Kau cukup bersujud dan beriman kepadaku dalam hati saja,” kata iblis

Tanpa pikir panjang lagi Barshiha bersujud dalam hatinya menurut saran iblis. Maka matilah Barshiha dalam kekafiran menyembah iblis. Masya Allah!

Iblis punya seribu satu cara untuk menggoda manusia. Ia tak akan mundur memburu mangsanya sebelum berhasil. Makin teguh iman yang dibujuknya, semakin canggih pula cara yang ditempuhnya. Dengan keuletan iblis itu, jatuh pulalalah benteng keimanan Barshiha, manusia alim yang tiada tara.

Orang yang mencintai Al-Qur’an


Orang yang mencintai Al-Qur’an

Masuknya Usaid bin Hudhair ke dalam agama Islam berkat mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Mush’ab bin Umair. Mush’ab adalah sahabat yang diutus oleh Rasulullah untuk menyampaikan risalahnya ke Madinah. Oleh sebab itu Usaid bin Hudhair benar-benar sangat mencintai Al-Qur’an.

Suatu malam Usaid duduk di belakang rumahnya. Kuda yang selalu siap menjadi tunggangannya di medang perang fi sabilillah ditambatkan di dekatnya.
Di malam yang hening dan sunyi, tiba-tiba hati Usaid tergerak untuk membaca ayat Al-Qur’an. Maka terdengarlah alunan Surat al-Baqarah ayat 14 dari mulut Usaid.

Alif laam miim. Inilah kitab yang tak ada keraguan padanya. Menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa....” dan seterusnya.

Mendengar bacaan itu, tiba-tiba kuda Usaid yang ditambatkan didekatnya meronta-ronta dan berlari berputar-putar. Karena kuatnya tenaga kuda itu, hingga tali pengikatnya putus.

Melihat kudanya menjadi beringas dan meringkik-ringkik, Usaid menghentikan bacaanya. Anehnya kuda itu pun menjadi diam.

Dan ketika Usaid melanjutkan bacaannya, kembali kuda itu meronta-ronta, bahkan lebih beringas lagi.

Ketika Usaid mendongakkan kepalanya, menatap langit. Ia melihat pemandangan yang menajubkan, dilangit nampak seperti terdapat payung raksasa yang sangat indah. Awan berkilau bagaikan lampu kristal memenuhi angkasa.

Tak lama kemudian, lampu gemerlap yang tergantung di langit itu lenyap dari pandangan.

“Belum pernah kulihat pemandangan seperti ini,” kata Usaid penuh decak kagum.

Esok harinya, Usaid bin Hudhair menemui Rasulullah, dan menceritakan peristiwa yang dilihatnya tadi malam.

“Itu adalah para malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Al-Qur’an. Seandainya kau teruskan membaca, niscaya akan banyak orang yang dapat melihat pemandangan tersebut. Pemandangan yang indah itu tak akan tertutup bagi mereke,” sabda Rasulullah.

Kisah tersebut seperti diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim.